+Vibes

40 Hari Bertahan Hidup di Hutan Amazon tanpa Ibu

Penulis - Staff | 4 November 2025

Hujan turun pelan di tengah hutan Amazon, menimpa pepohonan yang menjulang seperti dinding hijau tak berujung.

Di bawahnya, empat anak kecil berjalan perlahan, kaki mereka tenggelam di lumpur, tubuhnya penuh luka. Pesawat kecil yang ditumpangi bersama ibu mereka hancur. Tak ada sinyal, tak ada bantuan selama 40 hari, hanya hutan dan ketakutan.

Hari itu, 1 Mei 2023 pesawat jenis Cessna 206 yang membawa tujuh orang lepas landas dari Araracuara menuju San José del Guaviare, Kolombia.

Sekitar 350 kilometer sebelum tiba, pilot sempat mengirim sinyal bahaya bahwa mesin gagal. Tak lama kemudian, pesawat itu jatuh di jantung hutan Caquetá.

Dua pilot tewas di tempat, sang ibu bertahan selama empat hari sebelum meninggal dunia. Tapi keempat anaknya, Lesly (13), Soleiny (9), Tien Noriel (4), dan Cristin (11 bulan) tetap hidup.

Selama empat puluh hari berikutnya, dunia seolah menahan napas. Tak ada yang tahu di mana mereka. Namun di dalam rimba tropis yang lembab dan gelap itu, keempat anak dari suku Huitoto itu menggunakan pengetahuan yang diwariskan nenek moyang mereka.

Lesly, si sulung, mengingat cara mengenali buah yang aman dimakan, cara menampung air dari daun, dan bagaimana berteduh saat hujan lebat.

Mereka memakan buah bacaba dan tepung singkong kering (fariña) yang mereka temukan di reruntuhan pesawat. Menurut laporan BBC dan Business Insider, itulah yang menjaga mereka tetap hidup.

Sementara itu, di luar sana, Kolombia bergerak. Pemerintah menggelar Operación Esperanza (Operasi Harapan) pencarian lintas lembaga terbesar sepanjang tahun itu.

Lebih dari 150 prajurit militer dan 200 anggota komunitas adat menyusuri hutan seluas ratusan kilometer persegi.

Helikopter terbang rendah menyiarkan suara nenek anak-anak itu, direkam dan diputar dari pengeras suara:
“Lesly, Adiela, Noriel, Cristin… kami mencarimu. Bertahanlah, nak, kami dekat dengan kalian.”

Kolonel Fáber Dávila, komandan operasi, mengakui bahwa tanpa masyarakat adat, militer akan tersesat.

“Kami punya satelit dan helikopter, tapi mereka punya mata yang bisa membaca hutan,” ujarnya dalam wawancara dengan El País.

Bersama-sama mereka mencari, siang dan malam. Para prajurit memotong semak dan menandai pohon dengan pita merah. Masyarakat adat menafsirkan arah patahan ranting dan bekas buah yang tergigit.

Teknologi dan kearifan lokal berjalan berdampingan.

Hari ke-40 menjadi penanda sejarah. Di bawah pohon besar yang basah, tim pencari menemukan empat anak itu duduk berdekatan. Lesly memeluk adik bungsunya yang nyaris tak bergerak.

“Estamos vivos,” katanya pelan.

“Kami masih hidup.”

Mereka kurus, dehidrasi, tapi sadar. Dunia meledak dengan berita itu. Presiden Gustavo Petro menyebut mereka  sebagai anak-anak hutan yang kini menjadi anak-anak seluruh Kolombia.

Kisah ini kemudian diabadikan dalam film dokumenter berjudul The Lost Children (2024), yang menuturkan kembali perjalanan luar biasa itu.

Bukan hanya tentang bagaimana empat anak bertahan, tapi juga bagaimana bangsa yang sering terpecah belajar untuk bekerja sama.

Di layar, kita melihat tentara dengan seragam loreng berdiri sejajar dengan tetua adat bersarung kain tenun, menyusuri tanah yang sama, dengan tujuan yang sama, menyelamatkan kehidupan!

Bagi banyak orang, kisah ini tampak seperti mukjizat. Tapi mungkin ini bukan soal keajaiban dalam arti ilahi. Ini tentang sesuatu yang lebih sederhana tapi tak kalah sakral.

Kekuatan cinta, ketahanan manusia, dan kesadaran bahwa untuk bertahan, manusia tak bisa berjalan sendiri.

Empat anak itu mengingatkan dunia bahwa pengetahuan lama dan kemajuan baru bisa saling melengkapi.

Bahwa militer dan masyarakat adat bisa berdiri di sisi yang sama, dan bahwa harapan kadang tumbuh dari tempat paling sunyi di muka bumi.

Dan, seperti yang dikatakan salah satu petugas penyelamat dalam dokumenter itu, “Hutan tidak menelan mereka. Hutan melindungi mereka.”

Editor : Editor Kontemporer
Editor Picks