Books

Cara Dewasa Merelakan Teman yang Menjauh

Penulis - ats | 21 Oktober 2026
Sampul buku The Let Them Theory karya Mel Robbins. (Dok. Kontemporer)

Mendekati usia kepala empat, sejumlah orang dewasa mulai belajar berdamai dengan hal-hal yang tak bisa diubah. Hati dilatih lebih legowo, dan merelakan menjadi pelajaran yang datang bersama bertambahnya usia, meski tak pernah benar-benar mudah.

M Rijal (39) sedang menjalani pelajaran itu. Pekerja ibu kota asal Kota Kembang ini membangun ketenangan dirinya lewat buku bersampul hijau terang, The Let Them Theory, karya Mel Robbins.

Setiap akhir pekan, khususnya Minggu, ia menyempatkan diri duduk di kedai kopi dan tenggelam di dalamnya. Setengah hari ia menelaah setiap bab secara perlahan dari siang hingga petang.

Bagi Rijal, pesan buku itu praktis. Pikiran, sikap, dan keputusan orang lain tidak bisa kita kendalikan.

“Jujur, di usia segini udah di fase males untuk terseret dalam banyak drama. Apalagi, dengan orang kantor, keluarga, bahkan pacar mungkin,” ujarnya.

Beban yang dilepas
Rijal tidak sendirian. Buku yang terbit akhir 2024 itu digandrungi kalangan muda di tengah tren currently reading. Tak sedikit yang memotret sampulnya lalu mengunggahnya ke Instagram.

Bagi mereka, buku ini seolah menyimpan jawaban untuk melepaskan beban emosional di tengah interaksi dan tuntutan sosial yang begitu pekat.

Di antara banyak gagasan di dalamnya, satu bagian paling menarik bagi Rijal menyoal pertemanan yang memudar.

"Apakah secara alami seiring pertambahan usia, pertemanan yang sebelumnya erat kini jadi renggang? Atau karena gue belum nikah sedangkan teman-teman gue sebagian sudah punya dua anak? Pertanyaan ini gue dapat dalam buku itu," tuturnya.

Pertanyaan semacam itu bermuara pada gagasan yang menjadi fondasi teori Robbins, yakni membiarkan orang lain menjadi diri mereka sendiri.

Mengucapkan “let them” berarti berhenti memaksa orang berubah sesuai ekspektasi kita. Teman yang jarang menghubungi, rekan kerja yang menyebalkan, atau kerabat yang keras kepala dipersilakan menjadi diri mereka apa adanya. Energi yang biasanya terkuras untuk menebak dan menilai bisa dipakai untuk hal lain.

Bagi Rijal, kelegaan itu paling terasa dalam urusan pertemanan. Saat teman lama tak lagi sehangat dulu dan tak merespons ajakan atau pesan WhatsApp-nya, ia memilih berhenti.

"Ya sudah, stop. Enggak perlu habisin energi dengan menganalisis dia kenapa, ya? Apa gue ada salah?" katanya.

Dari “let them” ke “let me”
Namun, berhenti mengontrol orang lain baru separuh jalan. Langkah berikutnya adalah "let me”, yaitu memilih tindakan dari sisi kita sendiri, seperti menata batas pribadi atau menentukan langkah terbaik tanpa menunggu orang lain berubah.

Rijal pun mengaku mempraktikkan “let me” dengan menahan diri. Ia tak lagi mengirim WhatsApp untuk menanyakan “kenapa enggak dibalas?”.

Menurutnya, pertanyaan itu justru membuat teman-temannya makin menjauh dan merasa tidak nyaman.

Robbins mengingatkan bahwa keduanya harus berjalan bersama. Berhenti di “let them” bisa membuat kita tampak pasif. Jika terlalu sibuk dengan “let me”, kita berisiko merasa harus memperbaiki segalanya seorang diri.

Ketika keseimbangan itu tercapai, hubungan dengan siapa pun, baik pasangan, teman, keluarga, rekan kerja, maupun diri sendiri, menjadi lebih stabil. Tak ada tekanan untuk tampil sempurna atau memikul peran yang berlebihan.

Cukup katakan dalam hati
Kekuatan buku ini terletak pada kemudahannya. Saat seseorang bersikap tak sesuai harapan, entah tidak membalas pesan, menolak ajakan, atau mengambil keputusan yang mengecewakan, cukup katakan dalam hati: let them.

Lalu lanjutkan dengan let me, yakni tetap fokus pada pekerjaan, menjaga jarak aman, melanjutkan aktivitas lain, atau mengerjakan hal yang lebih bermanfaat. Rutinitas kecil ini menjaga keseimbangan batin tanpa perlu konfrontasi.

Ketika energi tak lagi dihabiskan untuk mengatur orang lain, ruang emosional kita menjadi lebih lapang. Robbins menunjukkan bahwa ketenangan muncul dari kemampuan mengelola respons, bukan dari memaksakan keadaan.

Mungkin itu sebabnya, di sudut kedai kopi pada akhir pekan, buku bersampul hijau terang itu terasa seperti teman duduk bagi Rijal. Hidup tak menjadi lebih mudah, tetapi terasa lebih ringan, hubungan lebih sehat, dan pikiran lebih tenang.

"Ternyata capeknya bukan karena orang lain, tapi karena gue sibuk ngatur mereka. Sekarang gue milih ngurus yang bisa gue urus aja lah," kata Rijal dengan tawa lepas.

Editor : ats
Komentar
Editor Picks