Polyworking Jadi "Skoci" di Tengah Ketidakpastian Pekerjaan
"Senin sampai Jumat panggil saya Iman, Sabtu-Minggu saya jadi mas-mas penjual parfum," ujar Iman Ratra (34) sembari terkekeh.
Warga Cibubur tersebut sehari-hari bekerja sebagai pegawai swasta di bilangan Jakarta Pusat. Perannya sebagai account executive menuntutnya menjaring klien dari pagi hingga petang, bahkan terkadang mengikuti rapat hingga malam.
Moda transportasi umum Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek kerap jadi pilihan utamanya menuju kantor atau berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain untuk bertemu klien.
Pada jam sibuk mulai pukul 06.00 hingga 09.00, gerbong dari Stasiun Hrjamukti menuju Dukuh Atas dipenuhi penumpang berbusana rapi, beraroma wangi, dan bergerak serbacepat. Di antara mereka ada pekerja kantoran yang saban pagi menuju pusat-pusat bisnis Jakarta.
Pemandangan itu pula yang suatu hari memantik gagasan Iman untuk merintis usaha wewangian kecil-kecilan bernama Budaya. Bagi Iman, bisnis ini bukan sekadar hobi. Ia menyebutnya sekoci.
"Kita enggak pernah tahu sampai kapan akan terus kerja ikut orang. Risiko politik kantor, status karyawan yang tak pasti, hingga bayang-bayang PHK di mana siapa pun bisa jadi ‘korban’ selanjutnya. Merintis bisnis ini buat latihan sekaligus jaga-jaga," kata Iman.
Ia berkaca pada orang-orang yang menurut pengamatannya, kehilangan pijakan setelah terkena pemutusan hubungan kerja. Ada yang baru mulai memikirkan usaha ketika penghasilan utama sudah terputus.
Melakoni polyworking
Iman sadar betul bahwa dirinya mesti tetap profesional menjalankan peran sebagai account executive di perusahaan.
Pada hari kerja, urusan kantor tetap menjadi yang utama. Ia mengejar target, menemui klien, dan sesekali baru pulang setelah malam.
Namun saat punya waktu luang usai jam kerja, ia kembali "merawat" botol-botol kaca berisi cairan wangi yang dianggapnya bak anak sendiri.
Iman bukan satu-satunya. Berdasarkan olahan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2024 sedikitnya 19,3 juta pekerja di Indonesia memiliki pekerjaan sampingan, setara 13,3 persen dari total penduduk bekerja. Di wilayah perkotaan, tercatat 11,5 juta pekerja menjalani peran ganda atau polyworking.
Angka itu menunjukkan, pekerjaan sampingan bukan pengalaman yang asing bagi pekerja Indonesia, termasuk mereka yang tinggal di perkotaan.
Bagi sebagian pekerja, pekerjaan kedua menjadi cara menambah penghasilan. Bagi yang lain, termasuk Iman, urusan ini menjadi ruang untuk menguji kemungkinan hidup di luar pekerjaan utama.
Pilihan merintis usaha di industri wewangian pun bukan tanpa alasan. Pasar parfum lokal dalam beberapa tahun terakhir turut diramaikan kemunculan berbagai merek baru. Bagi Iman, situasi itu membuka ruang untuk mencoba pasar tanpa harus meninggalkan pekerjaan utamanya.
"Penting dong (punya sekoci). Kalau enggak siapin sekoci, kita sering lihat orang yang tahu-tahu setelah PHK bingung mau jualan apa. Saya mempersiapkan diri lewat bisnis ini untuk berbagai skenario situasi,” terangnya.
Menjaga kedaulatan dapur
Merintis usaha wewangian di tengah menjamurnya merek parfum lokal bukan perkara ringan. Dengan modal pas-pasan, ikut adu promosi besar-besaran di media sosial jelas bukan pilihan bagi pekerja kantoran seperti Iman.
Ia memilih jalan yang dianggapnya lebih masuk akal, yakni pendekatan wilayah (marketing territory concept). Alih-alih mengejar kepopuleran skala nasional secara kilat, Iman membatasi fokus di lingkungan terdekat, mulai dari tetangga di kompleks perumahan Cibubur hingga jejaring sesama pengguna LRT harian.
Produksinya pun dijaga sekitar 200 botol per tiga bulan agar bisnis tetap sehat dan tidak mengganggu pekerjaannya di kantor.
"Saya tidak perlu jadi ‘siapa-siapa’ di Indonesia untuk membuktikan jenama saya ini dikenal. Saya cukup ingin jadi raja di area Cibubur. Tidak perlu jadi menteri, tapi saya jadi bupati," ungkapnya.
Pintu masuknya bukan menawari barang, melainkan terlibat dalam kegiatan warga, seperti kepengurusan acara lingkungan dan kegiatan keagamaan.
Dari sana, percakapan tentang produk tumbuh lebih alami. Orang-orang mengenalnya lebih dulu sebagai tetangga atau kawan, baru kemudian sebagai penjual parfum.
"Jadi kalau mau berbisnis, jangan jadiin orang itu cuma sebagai market, tapi bangun relasi. Kalau relasinya baik, (saya percaya) transaksi jual-beli pasti akan mengikuti," imbuhnya.
Apa yang dilakukan Iman memperlihatkan cara sebagian pekerja kota bernegosiasi dengan ketidakpastian. Mereka tetap bekerja penuh waktu, tetapi diam-diam menyiapkan jalan lain.
Bagi Iman, menjalankan usaha sembari tetap menjadi karyawan bukan perkara setia atau tidak kepada perusahaan. Ia hanya ingin memiliki pilihan apabila suatu hari keadaan berubah.
Untuk saat ini, sekoci itu belum perlu dipakai. Iman hanya memastikan, kalau badai datang, ia tidak baru mulai mencari perahu. Yang lebih penting lagi, dapurnya tetap ngebul.
| Editor | : | ats |