Prof Damayanti Buchori dan Mitos Rayap Sang Perusak
Di mata manusia modern, rayap hampir selalu hadir sebagai tokoh antagonis. Kehadirannya di sudut-sudut bangunan rumah dianggap sebagai ancaman finansial lewat mikro-bencana yang sanggup merobohkan konstruksi atap kayu, merusak perabot lemari, hingga melahap dokumen-dokumen berharga.
Industri pembasmi hama pun tumbuh pesat dari narasi ketakutan ini, menempatkan serangga bertubuh lunak tersebut dalam daftar musuh utama permukiman.
Namun, jika kita melangkah keluar dari batas-batas tembok semen dan menembus kerimbunan hutan alami, narasi perusakan itu seketika berbalik 180 derajat.
Di dalam rimba yang bebas, tempat garis kehidupan dan kematian saling bertautan tanpa intervensi manusia, rayap justru memegang peran vital yang tidak gampang digantikan oleh makhluk mana pun.
Ahli entomologi dan ekologi IPB University, Prof. Damayanti Buchori, memaparkan betapa keliru kacamata antroposentris yang kerap kita gunakan dalam menilai semesta serangga.
Damayanti mengatakan, kematian pohon tua di hutan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari siklus nutrisi baru yang digerakkan oleh jemari-jemari kecil sang dekomposer.
"(Selama ini) rayap kita anggap selalu sebagai hama, perusak rumah, dan sebagainya. Namun di alam, peran rayap itu penting sekali. Ketika ada pohon tumbang di hutan, pohon itu kemudian harus diuraikan. Rayap akan mendekomposisi bahan-bahan organik yang ada sehingga bisa kembali lagi ke bumi," tutur Prof. Damayanti saat menjelaskan dinamika dunia serangga dalam salah satu siniar, Sabtu (22/8/2026).
Kematian yang menghasilkan kehidupan
Penguraian materi organik yang keras, seperti selulosa dan lignin pada kayu mati, merupakan tantangan bagi sebagian besar organisme.
Tanpa kehadiran rayap beserta mikroflora yang menakjubkan, batang-batang pohon raksasa yang roboh akan menumpuk menjadi serakan kayu tak berguna (scattered logs).
Dosen Departemen Proteksi Tanaman IPB University itu menegaskan, tanpa bantuan rayap dan kelompok pengurai lain, proses dekomposisi kayu bisa memakan waktu hingga berpuluh-puluh tahun.
Kehadiran rayap mempercepat transisi tersebut. Proses pencernaan dan aktivitas pembuatan sarang mereka mengubah biomassa kayu yang keras menjadi humus serta mineral kaya nutrisi. Dari material yang terurai itulah, benih-benih kehidupan baru mendapatkan asupan terbaik.
"Nutrisi dan mineral itu kemudian kembali lagi ke bumi menjadi sumber nutrisi bagi kehidupan berikutnya. Pohon-pohon lain kemudian bisa tumbuh, kecambah tumbuh. Nutrisinya dari mana? Dari pohon-pohon yang tadi tumbang. Jadi, kematian itu menghasilkan kehidupan. Yang bisa membuat siklus recycling seperti itu adalah rayap. Jadi kita jangan underestimate pentingnya rayap di alam," tambah Prof. Damayanti.
Paradoks tersebut kerap luput dari perhatian publik. Dalam pandangan alamiah, tidak ada kematian yang sia-sia.
Batang pohon yang mati memberikan ruang dan makanan bagi rayap. Dan pada gilirannya, metabolisme rayap menyiapkan landasan subur bagi bertunasnya generasi pohon di masa depan.
Siklus daur ulang abadi ini membuktikan betapa terikatnya seluruh komponen ekosistem dalam jaringan kehidupan yang saling menopang.
Tanpa rayap hutan sulit pulih
Permasalahan timbul ketika manusia menarik garis tegas memisahkan diri dari alam, lalu mencap setiap organisme yang mengusik kenyamanannya sebagai "hama".
Prof. Damayanti mengingatkan bahwa istilah hama pada dasarnya lahir dari batasan ekonomi manusia, bukan batas biologis murni.
Rayap menyerang bangunan rumah manusia bukan karena dorongan untuk merusak, melainkan karena kita telah membangun ruang hidup di atas wilayah jelajah alami mereka dan menyajikan bahan olahan kayu tanpa batas.
"Apakah kita selalu harus bisa menjelaskan manfaat sesuatu sebelum kita menganggap ada gunanya spesies tersebut? Ketika kita belum tahu kegunaan spesies tersebut, apakah berarti spesies itu enggak berguna?" ujar Prof. Damayanti.
Pertanyaan reflektif tersebut turut mengajak kita untuk merenungkan kembali relasi manusia dengan alam raya.
Bahwasanya menjaga biodiversitas tidak melulu soal menyelamatkan satwa-satwa karismatik bertubuh besar yang indah dipandang. Justru organisme kecil yang tak kasat mata di serasah tanah—para peri penjaga nadi bumi—yang memastikan roda kehidupan planet ini terus berputar.
Tanpa rayap, hutan akan kehilangan mekanisme pemulihan dirinya. Dan pada akhirnya, kegagalan kita dalam memahami makhluk-makhluk kecil ini akan berdampak kembali pada kelangsungan hidup manusia itu sendiri.
| Editor | : | ats |