Voices

Hasrat Berdekat-dekat dengan Belahan Jiwa Sejati

Penulis - Pep | 26 September 2025
Ilustrasi- Anak Kucing (Foto: Freepik)

Seekor kucing liar bernama Neige menghembuskan napas terakhirnya di teras rumah. Bulunya, yang dulu seputih salju—sesuai namanya, Neige, yang berarti "salju" kini kusam, dirundung kepayahan.

Neige bukan sekadar kucing liar, ia adalah bagian dari keluarga, dipelihara karena kasih sayang anak saya pada makhluk-makhluk kecil.

Sayalah yang memberinya nama Neige, terinspirasi oleh melodi lembut gitar klasik Tombe La Neige, yang seolah menggambarkan salju yang turun pelan, penuh rahasia. Namun, kini Neige telah pergi, meninggalkan jejak yang mendalam di hati.

Neige datang kembali ke teras kami dalam keadaan sekarat, tubuhnya membawa aroma kematian yang menyengat.

Bi Amah, pembantu di rumah, dengan bijak menduga bahwa anak-anak dalam kandungannya telah mati, meracuni tubuhnya dari dalam. Lalat-lalat mengerubungi, seolah menjadi saksi bisu atas perjuangan terakhirnya.

Neige akhirnya menyerah pada takdir, dan Bi Amah menguburkannya di halaman rumah—tempat ia lahir, tempat ia memilih untuk mengakhiri perjalanannya.

Kematian Neige bukan sekadar kehilangan seekor hewan, ia adalah cermin bagi naluri abadi yang menggetarkan jiwa, yaitu hasrat untuk kembali ke asal-usul, ke tempat yang memberi makna.

Saya teringat tulisan Myra Sidharta tentang "naluri gajah mati," di mana gajah yang merasa ajalnya tiba akan berjalan jauh untuk mati di tempat kelahirannya.

Filsuf MAW Brouwer, dalam cerita Myra, merindukan Belanda, tanah kelahirannya, untuk menutup mata di sana. Neige, dengan caranya yang sederhana, seolah menjelmakan naluri yang sama.

Ia kembali ke halaman rumah, tempat ia pertama kali membuka mata, untuk menyerahkan jiwanya. Dalam keheningan kematiannya, Neige berbisik tentang sebuah kata yang menggema: soulmate.

Apa itu soulmate? Dalam bahasa Indonesia, kita menyebutnya "belahan jiwa," "teman hati," atau mungkin "saudara sejati." Namun, maknanya melampaui sekadar kekasih atau pasangan hidup.

Bagi Neige, soulmate bukanlah kucing-kucing jantan yang pernah melintas dalam hidupnya, juga bukan anak-anaknya yang kini hidup terpisah.

Soulmate Neige adalah kami—saya, anak, keluarga saya, bahkan Bi Amah—yang memberinya kasih, makanan, dan tempat berlindung.

Neige mengajarkan bahwa soulmate adalah mereka yang menjadi bagian dari perjalanan jiwa kita, yang menyentuh hati kita dalam keheningan kasih sayang, tanpa syarat.

John Naisbitt, dalam Megatrends, pernah menulis tentang kecenderungan manusia modern yang lelah dengan hiruk-pikuk kota. Di ujung kepenatan, manusia merindukan alam, desa, kampung halaman—tempat di mana jiwa mereka pertama kali bersentuhan dengan dunia.

Apakah ini juga "naluri gajah"? Ataukah ini adalah "naluri Neige"—hasrat mendalam untuk kembali ke pelukan soulmate sejati, yaitu alam yang telah mengasuh kita? 

Manusia, sebagai mikrokosmos, merindukan makrokosmos: Ibu Pertiwi, tanah air, dan segala yang memberi kita akar. Burung punai yang terbang ribuan mil akan kembali ke sarang tempat ia ditetaskan.

Begitu pula kita, yang berkelana jauh di negeri orang, akan merasakan getar kerinduan untuk bersua kembali dengan tanah kelahiran, dengan Indonesia, soulmate setia yang tak pernah menuntut.

Mudik Lebaran, dengan segala kehangatan dan kepadatan, adalah bukti nyata bahwa soulmate itu ada. Ia adalah tanah kelahiran, keluarga, dan kenangan yang membentuk kita.

Namun, di balik kerinduan akan manusia dan alam, ada soulmate yang lebih agung, yang sering kita lupakan dalam kesibukan hidup, yaitu Tuhan. Dialah soulmate sejati, yang menanti kita dengan sabar, meski kita kerap lalai mengingat-Nya.

Alam dan Ibu Pertiwi adalah cerminan kasih-Nya, tetapi Tuhan adalah tujuan akhir, pelukan terakhir yang merangkul jiwa kita di ujung perjalanan.

Kematian Neige, dengan segala kesederhanaannya, adalah pengingat yang mendalam. Kita berjalan, berkelana, dan mencari soulmate dalam wujud manusia, alam, dan tanah air.

Namun, pada akhirnya, jiwa kita merindukan Sang Maha Soulmate, yang selalu setia menanti. Dalam setiap langkah menuju kematian, kita sebenarnya sedang berjalan pulang—menuju pelukan abadi, menuju Sang Belahan Sejati.

Editor : Editor Kontemporer
Editor Picks