Poligami dan Skeptisisme Jurnalistik
Skeptisisme, dalam dunia jurnalistik, bukanlah sikap negatif yang meragukan segalanya tanpa dasar, melainkan sebuah pendekatan kritis yang mendorong verifikasi dan eksplorasi mendalam terhadap fakta.
Dalam pelatihan jurnalistik di Harian Kompas, Luwi Iswara, salah satu mentor saya, menegaskan bahwa seorang jurnalis harus memiliki dua sikap utama: skeptisisme (keraguan kritis) dan curiosity (rasa ingin tahu).
Tanpa keduanya, seorang jurnalis tidak akan mampu menggali kebenaran yang mendekati hakikat sebuah peristiwa.
Namun, bagaimana skeptisisme ini berlaku dalam konteks kehidupan pribadi, terutama ketika berhadapan dengan isu kontroversial seperti poligami?
Artikel ini berangkat dari refleksi atas sebuah postingan berjudul Skeptis terhadap J.CO dan Wong Solo, yang memancing perhatian bukan karena Johny Andrean dengan J.CO-nya, melainkan karena Puspo Wardoyo, pendiri Wong Solo, yang dikenal sebagai praktisi poligami secara terbuka.
Dengan mengintegrasikan pendekatan filosofis dan pandangan para pakar, artikel ini mencoba memahami poligami tidak hanya sebagai fenomena sosial, tetapi juga sebagai cerminan bagaimana sikap skeptis dapat diterapkan dalam jurnalistik tanpa jatuh ke dalam sikap sinis.
Skeptisisme dalam jurnalistik bukanlah keraguan yang lumpuh, melainkan keraguan yang produktif. Seorang jurnalis yang skeptis tidak langsung menerima keterangan dari narasumber, entah itu saksi mata, pejabat, atau dokumen resmi, sebagai kebenaran mutlak.
Seperti yang dikatakan oleh Karl Popper, “Pengetahuan kita hanyalah dugaan sementara yang harus terus diuji dan diperbaiki.” Dalam konteks jurnalistik, skeptisisme mendorong wartawan untuk turun ke lapangan, memverifikasi informasi, dan merekonstruksi peristiwa secara langsung.
Sebagai contoh, bayangkan sebuah kecelakaan lalu lintas yang menewaskan 10 orang. Seorang jurnalis yang tidak skeptis mungkin hanya mengandalkan keterangan polisi atau laporan sekunder, menghasilkan berita “katanya-katanya” yang dangkal.
Sebaliknya, jurnalis yang skeptis akan mempertanyakan setiap keterangan, mengunjungi tempat kejadian, mewawancarai saksi mata, dan menelusuri kronologi secara mendetail. Dengan demikian, skeptisisme bukan hanya alat untuk menghindari bias, tetapi juga jalan menuju kebenaran yang lebih mendalam.
Namun, seperti yang diingatkan oleh rekan saya, Dion Db Putra, seorang jurnalis, “Skeptisisme itu mutlak bagi jurnalis, tetapi yang tidak boleh adalah sinisme.” Skeptisisme menuntut keterbukaan untuk memverifikasi, sementara sinisme cenderung menutup pintu dialog dengan prasangka.
Dalam kasus Puspo Wardoyo, skeptisisme mengajak kita untuk melihat melampaui label “poligamis” dan memahami konteks kehidupannya secara holistik, tanpa terjebak dalam emosi atau penilaian moral yang prematur.
Poligami dalam perspektif filosofis dan ilmiah
Poligami, sebagai praktik perkawinan dengan lebih dari satu pasangan, telah menjadi topik yang memicu perdebatan di berbagai budaya dan zaman. Dari perspektif filosofis, poligami dapat dilihat melalui lensa etika, kebebasan individu, dan dinamika kekuasaan dalam hubungan manusia.
John Stuart Mill, dalam esainya On Liberty, menegaskan bahwa individu memiliki hak atas kebebasan selama tidak merugikan orang lain.
Dalam konteks ini, poligami dapat dianggap sebagai urusan pribadi selama semua pihak yang terlibat memberikan persetujuan tanpa paksaan.
Namun, Mill juga memperingatkan bahwa kebebasan individu harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial, sehingga praktik poligami sering kali diuji oleh norma budaya dan hukum masyarakat.
Dari sudut pandang ilmiah, antropolog Helen Fisher, yang mempelajari hubungan manusia dari perspektif evolusi, berpendapat bahwa poligami memiliki akar biologis dan sosial.
Dalam bukunya Anatomy of Love, Fisher menjelaskan bahwa poligami sering kali muncul dalam masyarakat di mana sumber daya terbatas, dan seorang pria dengan kekayaan atau status tinggi dapat “mengakomodasi” lebih dari satu istri untuk memastikan kelangsungan keturunan.
Namun, Fisher juga mencatat bahwa poligami sering kali memicu ketegangan emosional, terutama karena kecemburuan dan dinamika kekuasaan yang tidak seimbang antara suami dan istri.
Sosiolog Fatimah Mernissi dalam studinya tentang poligami di dunia Islam menyoroti bahwa poligami tidak hanya soal hubungan pribadi, tetapi juga tentang struktur sosial dan ekonomi.
Dalam bukunya Beyond the Veil, Mernissi berargumen bahwa poligami sering kali digunakan untuk memperkuat status sosial pria dalam masyarakat patriarkal, tetapi juga dapat memberi wanita perlindungan ekonomi dalam konteks tertentu.
Namun, ia menekankan bahwa keadilan antar istri, sebagaimana diwajibkan dalam ajaran Islam, sering kali sulit dicapai dalam praktiknya.
Melampaui label poligami
Kembali ke sosok Puspo Wardoyo, pendiri Wong Solo, yang dikenal karena praktik poligaminya yang terbuka. Dalam wawancara di Bintaro yang saya lakukan sebagai jurnalis, saya berusaha menerapkan sikap skeptis tanpa sinisme.
Meskipun poligami sering kali memicu antipati, terutama di kalangan perempuan, saya memilih untuk tidak terjebak dalam penilaian moral yang emosional.
Seperti yang disarankan oleh senior saya Ninuk Mardiana Pambudy, yang pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, “Dalam kehidupan pribadi, kalau skeptis melulu capek deh…
adi, perlu dibedain antara sikap sebagai jurnalis dan kehidupan pribadi.” Sementara Hendry Ch Bangun, jurnalis senior, menyarankan untuk “bawa santai aja, tapi tetap fokus.”
Dengan pendekatan ini, saya melihat Puspo Wardoyo bukan hanya sebagai “poligamis,” tetapi sebagai pebisnis kreatif yang telah membuka gerai Wong Solo di Malaysia dan Singapura, menciptakan lapangan kerja bagi ratusan tenaga kerja Indonesia.
Seperti Johny Andrean dengan J.CO-nya yang juga saya wawancarai, Puspo adalah anak bangsa yang mampu menangkap peluang bisnis, bahkan dari gaya hidup kelas kaki lima.
Skeptisisme jurnalistik memungkinkan saya untuk menggali cerita di balik label, menghasilkan narasi yang lebih kaya dan tidak terjebak pada stereotip.
Secara filosofis, poligami mengajak kita untuk merenungkan hubungan antara kebenaran, kebebasan, dan tanggung jawab. Seorang jurnalis, dengan skeptisisme sebagai alat, bertugas mencari kebenaran tanpa menghakimi.
Namun, seperti yang diingatkan oleh Hannah Arendt, kebenaran tidak pernah netral; ia selalu berada dalam konteks kekuasaan dan nilai-nilai masyarakat. Dalam kasus poligami, kebenaran tentang praktik ini tidak hanya terletak pada pilihan pribadi, tetapi juga pada dampaknya terhadap individu dan masyarakat.
Sebagai jurnalis, saya belajar bahwa skeptisisme bukan hanya soal meragukan, tetapi juga soal membuka ruang untuk memahami kompleksitas manusia.
Dengan mengesampingkan sinisme, saya dapat melihat Puspo Wardoyo sebagai individu dengan pilihan hidupnya sendiri, sekaligus sebagai pelaku ekonomi yang berkontribusi pada masyarakat.
Dalam hal ini, skeptisisme jurnalistik menjadi jembatan antara fakta dan empati, antara kebenaran dan kemanusiaan.
Skeptisisme dalam jurnalistik, sebagaimana dalam kehidupan, adalah seni menyeimbangkan keraguan dan keterbukaan. Dalam konteks poligami, sikap ini memungkinkan kita untuk melihat melampaui label dan memahami manusia di baliknya.
Dengan merujuk pada pandangan filsuf seperti Mill, ilmuwan seperti Fisher, dan sosiolog seperti Mernissi, kita dapat memperkaya diskusi tentang poligami sebagai fenomena yang tidak hanya pribadi, tetapi juga sosial dan budaya.
Seperti yang dikatakan Dion Db Putra, “Skeptis itu mutlak bagi jurnalis, yang tidak boleh itu sinis.” Dengan skeptisisme, kita tidak hanya menemukan fakta, tetapi juga makna di baliknya.
| Editor | : | Editor Kontemporer |