People

Animator Indonesia dan Momentum Nasionalisme di Panggung Global

Penulis - Staff | 13 Oktober 2025
Deretan animator Indonesia yang mendunia (Foto: Istimewa)

Indonesia punya deretan animator berbakat yang telah menembus industri animasi dunia, bukan sekadar ikut produksi, tetapi memberi sentuhan kreatif yang membentuk film-film besar:

  • Griselda Sastrawinata, Visual Development Artist di DreamWorks dan Disney, dikenal lewat desain kostum Anna di Frozen 2, serta karya-karya di Moana dan How to Train Your Dragon 2.
  • Rini Sugianto, animator senior di Weta Digital, punya jejak di film seperti Tintin, Avengers: Age of Ultron, dan Ready Player One yang masuk nominasi Oscar.
  • Paulie Alam di Pixar, turut menghidupkan karakter di Coco, Soul, Toy Story 4, dan Onward—di mana setiap gerakan karakter diwarnai emosi yang tulus.
  • Ronny Gani di ILM Singapura, mengerjakan film blockbuster seperti Avengers: Endgame, Ant-Man, hingga Pacific Rim.
  • Reynold Tagore dan Andre Surya, digital artists di Weta dan Lucasfilm/Weta FX, berkontribusi di film-film seperti The Hobbit Saga, Iron Man 3, Aquaman, dan Black Adam.
  • Yorie Kumalasari, sebagai Effect Artist di DreamWorks, menciptakan efek visual di How to Train Your Dragon: Hidden World, Abominable, dan The Croods: New Age.

Mereka membuktikan bahwa kualitas, ketekunan, dan keberanian kreatif bisa membawa nama Indonesia mendunia bahkan dari studio kecil sekalipun.

Ketika semangat nasionalisme dibayangi kritik teknikal
Di sisi lain, muncul film animasi lokal bertema nasionalisme: Merah Putih: One for All. Dirilis menjelang HUT ke-80 RI, film ini mendapat respon yang campur aduk.

Warganet menyentil kualitas visual film ini yang dianggap kaku, minim ekspresi, dan mirip grafis era PlayStation 2.

Kritikus seperti Hanung Bramantyo mempertanyakan anggarannya — hanya sekitar Rp 6–7 miliar — dan menilai itu tidak realistis untuk animasi kelas bioskop. Ia berharap film ini ditunda untuk disempurnakan.

Beberapa unggahan di YouTube dan X menunjukkan indikasi penggunaan aset siap pakai dari platform seperti Reallusion atau Daz3D, sehingga memicu isu soal orisinalitas.

Selain visual, narasi film dianggap generik, terasa seperti iklan layanan masyarakat, dan kurang menyuguhkan kedalaman emosional yang menyentuh hati.

Kritik seputar film ini mencerminkan harapan publik pada animasi lokal bertema kebangsaan, bahwa pesan mulia harus ditemani dengan kualitas teknis dan artistik yang layak untuk dikenang.

Indonesia punya kemampuan untuk bersinar di panggung global. Para animator seperti Griselda, Rini, Paulie, Ronny, Reynold, Andre, dan Yorie telah membuktikannya lewat karya mereka.

Namun, membangun industri animasi bangsa juga perlu kualitas. Film seperti Jumbo menjadi tolok ukur bahwa karya lokal bisa menyentuh hati sekaligus menarik dari segi teknis.

Sebaliknya, Merah Putih: One for All menjadi pengingat bahwa niat menyampaikan semangat kebangsaan tidak cukup tanpa kesiapan artistik dan teknis yang memadai.

Semoga kritik ini menjadi catatan penting bersama bahwa animasi lokal layak mendapat dukungan, inspirasi, dan kesempatan untuk tumbuh menjadi kebanggaan bangsa.

Editor : Editor Kontemporer
Editor Picks