Focus

Perintis atau Pewaris? Sebuah Refleksi untuk Mereka yang Sedang Bertumbuh

Penulis - Staff | 16 Oktober 2025
Ilustrasi-Pekerja (Foto: Freepik/jcomp)

Beberapa hari terakhir, media sosial ramai memperdebatkan istilah “perintis” dan “pewaris”. Semua berawal dari unggahan seorang anak berusia 9 tahun, Ryu Kintaro, yang menyuarakan semangat merintis dengan nada yang begitu yakin dan menggebu.

Bagi sebagian orang, ucapannya terdengar inspiratif. Tapi bagi banyak lainnya, justru memicu pertanyaan: benarkah ia memahami makna merintis?

Di balik perdebatan itu, terselip kegelisahan yang lebih dalam. Bukan semata soal Ryu atau usia mudanya, tetapi tentang bagaimana publik, khususnya generasi muda memahami posisi, privilese, dan perjalanan seseorang dalam membangun sesuatu.

Di era yang serba terbuka ini, semua orang bisa terlihat bekerja keras, namun tidak semua benar-benar memulai dari titik yang sama.

Konsep “merintis dari nol” seringkali dipakai sebagai medali. Namun, seperti yang dikemukakan oleh ekonom peraih Nobel, Amartya Sen, kesuksesan tak hanya ditentukan oleh kesempatan, tapi juga oleh kapabilitas yakni sejauh mana seseorang bisa menggunakan sumber daya yang dimilikinya untuk mencapai tujuan hidup yang ia anggap bermakna.

Dalam banyak kasus, kapabilitas itu diwariskan: dari pendidikan, jaringan, hingga lingkungan yang mendukung.

Merintis bukan soal nol rupiah, tapi nol kepastian
Menjadi perintis tidak selalu berarti miskin atau tanpa akses. Namun, ia selalu menyimpan satu hal yang pasti yaitu ketidakpastian.

Merintis seringkali berarti berjalan di jalan yang belum terbentuk, menembus belukar sambil berharap ada cahaya di ujungnya.

Sementara itu, menjadi pewaris sering kali diartikan sebagai menapaki jalan yang sudah terbuka. Tapi, disinilah letak simpul persoalan. Tidak semua pewaris paham jalan yang mereka tempuh, dan tidak semua perintis punya kesempatan untuk melewati jalan yang sama.

Masalahnya bukan status, tapi kesadaran diri
Dalam konteks sosial dan bisnis, perdebatan antara perintis dan pewaris bukan untuk menentukan siapa lebih unggul.

Yang paling esensial justru soal kesadaran diri. Menyadari bahwa setiap langkah seseorang dipengaruhi oleh posisi awal mereka dalam struktur sosial. Menyadari bahwa tidak semua orang bisa atau perlu menjadi pahlawan yang memulai dari nol.

Filsuf Prancis Pierre Bourdieu menyebut istilah habitus kebiasaan dan preferensi yang terbentuk dari lingkungan sosial seseorang.

Seorang pewaris bisa menjadi perintis sejati jika ia sadar akan privilese-nya dan memanfaatkannya untuk menciptakan sesuatu yang berdampak luas. 

Sebaliknya, seorang perintis sejati bisa terjebak dalam glorifikasi perjuangan pribadi, jika ia terus merasa bahwa “kesulitan” adalah satu-satunya mata uang untuk mengukur keberhasilan.

Yang lebih penting: apa yang sedang dibangun dan untuk siapa
Di luar gelar dan narasi, pertanyaan pentingnya adalah: apa yang sedang dibangun, dan untuk siapa?
Apakah hanya untuk memperpanjang warisan, atau untuk memperluas kemaslahatan? Apakah hanya untuk terlihat sukses, atau benar-benar menciptakan nilai?

Anak muda hari ini tidak kekurangan semangat. Tapi di tengah banjir motivasi yang viral dan kutipan inspiratif, penting untuk diingat bahwa setiap orang memulai dari tempat yang berbeda.

Dan tugas kolektif generasi ini bukan hanya membangun untuk diri sendiri, tapi juga membuka ruang bagi yang lain untuk bertumbuh.

Perintis, pewaris, atau keduanya, asal tidak lupa tujuan
Tidak ada yang salah menjadi pewaris. Tidak ada yang lebih mulia menjadi perintis. Yang keliru adalah lupa tujuan, terjebak dalam citra, atau memaksakan narasi “dari nol” hanya agar terlihat heroik.

Akhirnya, pertanyaan bukan lagi siapa yang perintis atau pewaris. Tapi, apa yang ingin kita wariskan, dan kepada siapa perjuangan ini akan diteruskan?

Karena dalam dunia yang terus bergerak cepat ini, yang dibutuhkan bukan hanya pembeda, tapi mereka yang punya kedalaman. Yang bisa memaknai langkahnya, dan mengajak lebih banyak orang berjalan bersama.

Editor : Editor Kontemporer
Editor Picks