Focus

Indonesia Raya, Kumandang yang Makin Sayup-sayup

Penulis - Staff | 9 September 2025
Ilustrasi: Nasionalisme/Freepik (generated by ai)

Ada yang ganjil tetapi sekaligus mengharukan dalam kenangan malam itu, 23 Agustus 2006, di Bentara Budaya Jakarta. Peristiwa lama, tetapi malam konser tunggal penyanyi balada Iwan Abdulrachman atau biasa dipanggil Abah Iwan terasa berbeda.

Sebelum gitar “tremolo”-nya mengalun dalam lagu Sejuta Kabut, seluruh hadirin diminta berdiri. Bukan untuk menyambut sang penyair lagu, melainkan untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Penonton merinding. Bukan karena pengaturan suara yang megah atau karena suasana syahdu ruangan, tetapi karena, dalam sekejap, mereka merasa hadir sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri: sebagai orang Indonesia yang sejati, yang sadar, yang bangga.

Di tengah makin riuhnya musik R&B, drill dan hyperpop, serta kultur pop Korea dan Jepang yang menguasai selera anak muda, momen kecil semacam ini—berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan di luar upacara resmi—terasa seperti lilin kecil di tengah badai.

Apakah kita masih ingat bagaimana menyanyikan Indonesia Raya dengan khidmat? Bukan sekadar gerakan refleks setiap Senin pagi?

Nasionalisme di tengah kebisingan
Hari ini, nasionalisme kita diuji bukan hanya oleh ancaman asing, tetapi juga oleh kelupaan kita sendiri.

Survei Litbang Kompas tahun 2023 menunjukkan bahwa hanya 36% generasi muda yang bisa menyebutkan makna Pancasila secara lengkap. Bahkan 41% responden tidak hapal lirik lengkap lagu “Indonesia Raya”.

Ini bukan soal nasionalisme klise. Ini soal identitas. Lagu kebangsaan bukan sekadar tiga bait dan paduan nada. Ia adalah pengingat kolektif bahwa kita pernah bersepakat menjadi bangsa.

Lagu ini diciptakan Wage Rudolf Supratman bukan untuk seremoni, melainkan sebagai teriakan kultural untuk mengikat rasa kebangsaan—dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote.

Ketika “Indonesia Raya” makin jarang dikumandangkan dalam ruang-ruang publik non-resmi dalam konser, festival film, acara komunitas, atau pertandingan lokal, kita pelan-pelan kehilangan makna bersama.

Yang tersisa hanya simbol-simbol kosong, tanpa getaran jiwa.

Menggugah lewat nada
Untungnya, selalu ada suara-suara alternatif. Lihat saja Kikan, vokalis band Cokelat, yang tak ragu menyisipkan lagu patriotik dalam konser rock-nya.

Saat tampil di Beijing pada pertunjukan internasional, ia menyanyikan “Tanah Airku” dengan penuh semangat. Tanpa malu. Tanpa takut disebut lebay atau sok nasionalis.

Bandnya, Cokelat, bahkan dikenal membawakan lagu “Bendera” yang kerap dijadikan penyemangat tim olahraga Indonesia.

Lagu itu bukan sekadar musik, melainkan manifesto kecil tentang cinta Tanah Air dalam bahasa anak muda. Dan nyatanya, penonton justru ikut larut—mereka berdiri, menyanyi bersama, dan mengibarkan tangan seolah memegang Merah Putih.

Apa yang dilakukan Kikan menunjukkan satu hal penting: nasionalisme tidak harus kaku, tidak harus berat. Ia bisa menyelinap lewat senar gitar, hentakan drum, dan nyanyian lantang dari panggung ke panggung. Ia bisa hadir di ruang-ruang kreatif yang tak disangka.

Dari upacara ke kesadaran
Pertanyaannya, mengapa menyanyikan lagu kebangsaan kini terasa seperti rutinitas mekanis? Di sekolah, nyanyi karena harus.

Di stadion, nyanyi karena protokol. Tetapi kapan terakhir kali kita menyanyikannya karena ingin? Karena merasa perlu mengingat siapa kita?

Di masa Soekarno, lagu-lagu wajib seperti “Halo-Halo Bandung” dan “Bagimu Negeri” bukan sekadar lagu, melainkan bagian dari pendidikan rasa.

Rasa sebagai bangsa. Kini, jika ada yang menyanyikan lagu patriotik di luar momen resmi, justru dianggap ganjil. Mungkin dicibir: “Sok nasionalis banget, sih?”

Tetapi, bukankah justru di zaman yang semakin cair ini—di mana TikTok lebih fasih memengaruhi pikiran anak muda ketimbang buku sejarah—kita butuh cara-cara baru untuk menyuarakan nasionalisme?

Bumi yang kita pijak, udara yang kita hirup, dan langit yang memayungi kita, semua adalah bagian dari rumah yang bernama Indonesia.

Menyanyikan Indonesia Raya bukan perkara hapal atau tidak hapal, bukan soal suara bagus atau tidak, tetapi soal keberanian untuk merasa: ini tanah airku.

Saya pun tak selalu hapal liriknya. Kadang terbalik antara bait pertama dan kedua. Tetapi setiap kali lagu itu mulai mengalun, ada bagian dalam diri saya yang berdiri. Entah apa. Mungkin itu yang disebut rasa kebangsaan.

Karena, sebagaimana kata penyair Chairil Anwar: "Sekali berarti, sudah itu mati."

Jangan sampai Indonesia Raya hanya berarti sekali dalam seminggu. Jangan biarkan ia menjadi kumandang yang makin sayup-sayup. Mari kita hidupkan lagi—di sekolah, di konser, di podcast, di bioskop, bahkan di pesta ulang tahun, kalau perlu.

Karena selama lagu itu masih bisa dinyanyikan dari hati, kita masih punya harapan untuk menjadi bangsa. Bangsa Indonesia, tentunya.

Editor : Staff
Komentar
Editor Picks