Uang dan Ilusi yang Kita Jalani Diam-Diam
Kita tumbuh dengan anggapan bahwa uang adalah segalanya. Dari kecil, kita diberitahu untuk rajin belajar agar bisa kerja bagus, dapat gaji tinggi, dan hidup nyaman.
Tapi tak ada yang benar-benar mengajari kita bagaimana memahami uang. Kita hanya tahu ia penting, tanpa tahu persis untuk apa selain membayar hidup.
Uang hari ini tidak lagi hadir sebagai benda nyata. Ia berubah jadi angka di layar, notifikasi transfer, atau QR yang kita scan tanpa pikir panjang.
Karena bentuknya makin tidak terasa, uang jadi makin mudah menghilang dan lebih mudah membuat kita kehilangan arah.
Kita mengejarnya, tapi lupa menanyakan apa yang ingin kita capai dengannya.
Kutipan dari antropolog David Graeber bilang, “Uang adalah cerita yang kita sepakati bersama.”
Artinya, uang bekerja karena kita percaya padanya. Tapi kepercayaan itu juga bisa berubah jadi jebakan: uang bukan cuma alat tukar, tapi alat ukur.
Kita mulai menilai orang bahkan diri sendiri berdasarkan angka di rekening, bukan kualitas hidup yang dijalani.
Masalahnya bukan pada uang itu sendiri. Uang tidak jahat. Ia netral. Tapi jika hidup kita seluruhnya ditentukan oleh uang, maka kita mungkin sedang kehilangan hal paling manusiawi dari hidup: rasa cukup, rasa syukur, dan rasa aman.
Ketika uang jadi satu-satunya bahasa yang kita mengerti, kita rentan lupa bagaimana hidup yang sebenarnya.
Mungkin yang kita kejar selama ini bukan sekadar uang, tapi rasa dihargai. Rasa aman. Rasa bebas. Dan semua itu tidak selalu datang bersama nominal.
Maka di tengah dunia yang makin cepat dan bising ini, pertanyaan yang layak kita jaga baik-baik adalah: apa yang ingin kamu bangun dengan uangmu, bukan hanya berapa banyak yang kamu punya.
| Editor | : | Editor Kontemporer |