Di Kepala Kita, Ada Perang yang Tidak Pernah Berhenti
Overthinking atau memikirkan sesuatu secara berlebihan dan berulang belakangan ini kerap menghinggapi sejumlah orang, terutama kalangan muda. Istilah ini bahkan familier di tengah obrolan mereka kala bercerita soal kecemasan dan sulit tidur yang mereka alami.
Beberapa di antara mereka bahkan mengaku tak dapat memejamkan mata hingga menjelang subuh. Perasaan kalut menghantui, disertai kumpulan persoalan yang seolah membelit isi kepala.
Meski terbit pada 1995, buku bertajuk Pikiran Adalah Medan Perang yang dirilis Joyce Meyer masih relevan dengan problema kalangan muda masa kini.
Ia membagi buku tersebut dalam tiga bagian utama. Pertama, berkaitan dengan pentingnya pikiran. Di sini ia menegaskan bahwa kita tidak harus selamanya memikirkan hal yang sedang kita pikirkan saat ini.
Hal itu bukan tanpa alasan. Banyak masalah manusia justru berakar dari pola pemikiran, dan dari situlah lahir persoalan-persoalan yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, ada masa di mana pemikiran keliru atau negatif singgah di kepala. Namun, kita tidak perlu menerima serta mencernanya dalam-dalam. Sebaliknya, pikirkanlah apa yang baik dan sedap didengar, bukan yang memicu kecemasan.
Ketiga, sejatinya pikiran adalah medan peperangan. Peperangan itu bukan terjadi di luar diri kita, melainkan di dalam diri, tepatnya dalam pikiran kita.
Sebab itu, sangat penting bagi kita untuk mampu mengatur pikiran agar selaras dengan keyakinan yang kita percaya.
Memperjuangan pikiran yang baik
Perlu disadari bahwa setiap hari ada puluhan, bahkan ratusan pikiran yang hadir—sebagian benar, sebagian lainnya menyesatkan.
Yang menarik, pikiran negatif sering kali datang tanpa usaha dan justru lebih mudah menarik perhatian. Sementara itu, pikiran yang benar dan sehat justru perlu diperjuangkan.
Meyer mengingatkan, dalam memilih di antara keduanya—pikiran negatif dan positif—di situlah peperangan yang sebenarnya terjadi. Apakah kita akan mengutamakan pikiran yang baik, atau justru terjerembab dan larut dalam pikiran negatif.
Meyer juga bilang, ketika kita mulai merasa bahwa perang dalam pikiran ini terlalu sulit dan kita tidak akan mampu memenangkannya, justru di saat itulah kita perlu meruntuhkan pikiran tersebut dan memilih untuk percaya bahwa kita bisa menang.
Bukan hanya memilih untuk menang, tetapi juga mengambil keputusan untuk tidak menyerah dalam memperjuangkan pikiran yang baik.
Memang, menuju pikiran yang diperbarui tidak terjadi seketika. Proses ini membutuhkan waktu dan latihan, sedikit demi sedikit.
Namun, kita tidak perlu khawatir, sebab kita tidak sendiri. Banyak orang di luar sana yang juga mengalami pergulatan serupa untuk memenangkan pikiran dan menemukan ketenangan.
Meski telah terbit tiga dekade lalu dan dicetak ulang hingga 2017, buku tersebut tetap relevan dengan konteks masa kini.
Terlebih, bagi kalangan milenial dan Gen Z yang kerap dilanda persoalan klasik dari zaman ke zaman, yakni overthinking.
Masalah ini pada dasarnya tidak pernah berubah. Yang berbeda hanyalah pelaku dan zamannya. Sebab itu, tak ada satu pun manusia yang benar-benar kebal dari overthinking. Dan perlombaan memenangkan pikiran di medan perang ini adalah pertandingan yang diikuti oleh setiap orang, tanpa kecuali.
Upaya ini memang membutuhkan waktu, dan tidak mudah. Namun, kita sedang berada di arah yang tepat ketika memilih untuk berpihak pada pikiran yang benar.
| Editor | : | ats |