Siapa yang tak kenal dengan brand Louis Vuitton? Di jagad industri fashion, Louis Vuitton atau yang sering disebut dengan singkatan populer “LV” ini menjadi salah satu kiblat brand fashion. Bahkan, sepanjang sejarah berdirinya hingga sekarang, LV tidak pernah mengadakan sale atau obral.

Hal itu menguatkan LV sebagai brand dengan penuh citra investasi dan kemewahan dan membuat  LV tidak pernah turun pamor dalam dunia fashion.

Bagi kamu pecinta fashion tingkat tinggi, memiliki LV merupakan sebuah keharusan. Kamu perlu mempersiapkan kocek yang tergolong tinggi untuk mendapatkan sebuah LV. Rentang harga yang dibanderol mulai dari puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Bukan tidak mungkin, jika kocek kamu belum mencukupi untuk membeli LV baru, kamu bisa membeli LV dengan kondisi second yang kualitasnya masih layak, pastinya dilengkapi dengan surat keaslian.

Di situs jual beli online atau sosial media, untuk LV second keluaran tahun 1990 saja ada yang membandrol harga sekitar Rp 5 hingga 10 juta, tergantung dari jenis dan kualitasnya.

Bicara tentang LV, mungkin kamu ada yang baru tau kalau nama Louis Vuitton adalah nama seorang perancang Prancis yang paling terkenal karena barang-barang berbahan kulitnya.

Barang-barang tersebut dijual dengan merek yang sama dengan namanya brandnya, ‘Louis Vuitton’. Lahir pada 4 Agustus 1821 di Anchay dan meninggal dunia pada usia 70 tahun tepatnya 27 Februari 1892.

Anchay merupakan sebuah kota di Perancis Timur, tempat tinggal para pekerja kelas bawah. Ayahnya, Xavier Vuitton adalah seorang petani dan ibunya Coronne Gaillard adalah seorang tukang giling.

Louis, panggilan Louis Vuitton, terbiasa menggunakan perkakas milik ayahnya sejak kecil karena ayah Louis juga seorang tukang kayu. Xavier, ayah Louis menikah lagi setelah Ibu Louis meninggal saat Louis berusia 10 tahun.

Dahulu, orang-orang kaya seringkali bepergian untuk berlibur dan menggunakan jasa pengepakan untuk barang-barang pribadi mereka yang akan dibawa untuk berlibur. Nah, profesi inilah yang ditekuni oleh Louis yang dikenal dengan sebutan “Layetier-Emballeur-Malletier” dimana dia menangani dan mengepak barang-barang itu ke dalam kotak/koper.

Profesi ini dianggap profesi yang terkenal, karena akan berhubungan langsung dengan orang-orang kaya atau bangsawan dan Louis menjadi salah satu orang yang ternama di bidang ini.

Profesi itu dia lakukan saat berusia 14 tahun, Louis muda meninggalkan rumah karena lelah dengan kehidupan pedesaan dan juga sikap ibu tirinya yang terlalu keras. Dia mencoba peruntungannya dengan nekat pergi ke Paris yang berjarak 292 mil dengan berjalan kaki yang memakan waktu hingga 2 tahun.

Di sepanjang perjalanannya, Louis sesekali berhenti dan bekerja serabutan untuk menopang hidupnya, mengingat dia sama sekali tidak memiliki apa-apa. Setibanya di Paris pada tahun 1837, dia memulai berkarier sebagai pekerja magang di bengkel pengepakan kotak dan koper ternama di kota itu.

 

https://commons.wikimedia.org/wiki

 Nasib Baik Louis Vuitton

Tahun 1853 ia ditunjuk sebagai pengepak box pribadi Ratu Perancis Eugiene de Montijo, istri dari Napoleon Bonaparte. Louis diminta oleh Ratu untuk membuatkan kotak pakaian yang indah untuk dibawa dari Istana Tuileres, Chateu de Saint-Cloud menuju ke berbagai resort di tepi laut.

Posisi Louis sebagai pembuat dan pengepak kotak pakaian pribadi milik Ratu, memberinya jalan untuk memiliki jaringan mitra dan klien-klien yang lebih elite dan kaya.

Tahun 1854, Louis menikah dengan Emelie Pariaux, lalu membuka bengkel packing nya sendiri di kota Paris, dia mendirikan perusahaan pembuat koper yang kemudian menjadi sebuah dinasti tas dan koper paling laris di dunia dalam sejarah.

Karya besar Louis tercipta ketika 1858 dia memperkenalkan koper datar dengan tepian besi dan kayu. Koper itu tidak dilapisi kulit, melainkan kanvas Trianon abu-abu yang kuat dan kedap air. Koper orisinal pertama itu langsung terkenal dan banyak ditiru.

Ide Untuk Produk-Produk Mewah

Louis Vuitton selalu menggembangkan idenya untuk menciptakan produk-produk yang mewah. Karena itulah, produknya menjadi nilai jual suatu merek.

Untuk menghindari peniruan, George Vuitton yang merupakan putra dari Louis Vuitton, membayangkan sebuah image yang tidak bisa terpisah dari sebuah merek Louis Vuitton. Di tahun 1896, dia menggambar bulatan berisi bunga kelopak empat warna negatif. Kemudian bintang bersudut empat warna positif dan negatif.

Untuk menghormati sang ayah, George menambahkan inisial LV diantara bulatan bunga dan bintang tadi. Sejak saat itu, lahirlah sebuah komposisi yang kemudian disebut monogram dan menjadi ikon LV.

LV POCHETTE METIS M40780 – eu.louisvuitton.com

 

Monogram tersebut kemudian mengilhami berbagai merek ternama di dunia dengan memakai logo sebagai motif dekoratif dan sebagai penanda identitas pada produk mereka.

Pada tahun 1997, monogram berubah menjadi lebih modern. Dimulai dengan memoles monogram klasik paduan ekru dan kopi menjadi monogram vernis dalam warna pastel berkilau. Langkah ini sebagai salah satu bentuk inovasi dari Louis Vuitton untuk menjaga citranya sebagai produk yang bergengsi dibenak para pecintanya.

Facebook Comments